Search This Blog

Saturday, November 7, 2015

Novel The Palace of Illusions (Istana Khayalan)



Hai ladies.... kali ini buku yang akan saya share bernuansa India.. yups kisahnya sangat sangat sangat bagus... (saya sampai baca berulang-ulang kali). Seperti biasa saya akan memberikan bagian pertama kepada kalian, jadi sebelumnya kalian bisa merasakan apakah buku ini memang merupakan selera cerita kalian atau belum termasuk, jika sudah termasuk dan kalian merasa tertarik ,.. sangat tertarik, kalian bisa membeli buku ini tanpa rasa menyesal. Siap!! Mari kita mulai....


Judul Buku : The Palace of Illusions ( Istana Khayalan )
Karya : Chitra Banerjee Divakaruni


TENTANG PENULIS

BAB I

Selama tahun-tahun panjang dan kesepian masa kecilku, ketika istana ayahku seakan-akan mempererat cengkramannya atas diriku hingga aku tidak bisa bernafas, sering aku pergi kepada pengasuhkku untuk meminta dongeng. Dan meskipun dia tahu banyak kisah menajubkan dan mengingkatkan moral, kisah yang selalu kuminta diceritakannya berulang-ulang adalah kisah kelahiranku. Kupikir aku menyukai kisah itu karena membuatku merasa istimewa, dan pada masa itu tidak ada hal lain yang bisa membuatku merasa seperti itu. Barangkali Dhai Ma menyadari hal ini. Barangkali karena itulah dia menuruti tuntutanku, meskipun kami berdua tahu seharusnya aku menggunakan waktuku secara lebih bermanfaat, dengan cara yang lebih pantas bagi putri Prabu Drupada, penguasa Panchala, salah satu kerajaan paling kaya di Benua Bharat.
Kisah ini mengilhamihku untuk mengarang nama-nama khayalan bagi diriku sendiri: Keturunan Dendam, atau dia yang Tidak Terduga. Tetapi Dhai Ma menggembungkan pipinya melihat kecenderunganku pada drama, dan menyebutku Gadis yang Tidak Diundang. Siapa tahu, mungkin dia lebih benar daripada aku.
Siang musin dingin ini, sambil duduk bersila di dalam sercercah chaya matahari yang berhasil menerobos masuk melalui celah jendela, dia berkata, “Waktu kakak laki-lakimu melanngkah keluar dari api pengorbanan ke atas ubin batu dingin balairung istana, semua hadirin berteriak kagum.”
Dhai Ma sedang mengupas polong. Aku memperhatikan jari-jarinya yang bergerak cepat dengan perasaan iri, sangat berharap dia membiarkan aku membantunya. Tetapi Dhai Ma mempunya pendapat khusus tentang kegiatan-kegiatan yang tidak pantas bagi putri-putri raja.
“Sekedip mata kemudian,” lanjutnya “waktu kau keluar dari api, kami semua terperangah. Susanan hening sekali, sampai kentut lalat saja bisa terdengar.”
Aku mengingatkannya bahwa lalat tidak bisa melakukan faal tubuh yang itu.
Dhai Ma tersenyum dengan senyumannya yang cerdik dan mata menyipit. “Nak, hal-hal yang tidak kau ketahui bisa memenuhi samudra putih susu tempat Batara Wisnu tidur, dan tumpah ruah dari pinggirannya.”
Aku ingin mengungkapkan rasa tersunggungku, tetapi aku ingin mendengar kisah itu. Maka aku menahan diri untuk tidak bicara, dan sesudah beberapa saat Dhai Ma mulai bercerita kembali.
“Kami sudah berdoa selama tiga puluh hari, sejak mulai matahari terbit hingga matahari terbenam. Kami semua: ayahmu, keseratus pendeta yang diundangnya ke Kampilya untuk melakukan upacara Upajaya, para permaisuri, menteri dan tentu saja para pelayan. Kami juga berpuasa—memang kami tidak punya pilihan lain—hanya satu kali makan setiap sore, nasi pipih yang direndam dalam susu. Prabu Drupada bahkan tidak mau makan itu. Dia hanya minum air yang dibawa dari Gangga yang suci, agar para dewa merasa wajib mengabulkan doa-doanya.”
“Bagaimana rupanya?”
“Dia kurus seperti ujung pedang, dan sama kerasnya. Semua tulangnya bisa dihitung. Matanya yang melesak jauh ke dalam rongga matanya, bersinar-sinar seperti mutiara hitam. Dia nyaris tidak bisa menegakkan kepalanya, tetapi tentu saja dia tidak sudi melepaskan mahkita besar itu, yang selalu di pakainya—semua orang belum pernah melihatnya tanpa mehkota itu, bahkan istri-istrinya juga tidak, di tempat tidur pun tidak.
Dhai Ma sangat cermat memperhatikan detail. Ayah kini masih sama saja, meskipun usia—dan keyakinan bahwa akhirnya dia sudah dekat dengan apa yang telah begitu lama didambakannya—sudah melunakkan wataknya yang tidak sabaran.
“Ada orang-orang,” lanjut Dhai Ma, “yang menyangka dia akan meninggal, tetapi aku tidak begitu cemas akan hal itu. Siapa pun yang menginginkan balas dendam begitu kuat seperti ayahmu yang raja itu, tidak akan dengan mudah melepaskan tubuh dan napasnya.” Dia mengunyah segenggam polong sambil merenung.
“Akhirnya,” aku mendesaknya, “sudah hari ketiga puluh.”
“Dan aku sangat bersyukur atas hal itu. Susu dan gabah memang baik untuk pendeta dan janda, tetapi aku lebih suka kari ikan dengan cabai hijau dan acar asam kapan saja! Lagipula, tenggorokanku sampai sakit gara-gara mengocehkan kata-kata Sansekerta yang susah diucapkan itu. Dan pantatku, sumpah rata gara0gara duduk di lantai batu yang dingin itu.
“Tetapi aku juga takut, dan waktu itu aku melirik ke sana kemari, kulihat bukan aku saja yang ngeri. Bagaimana seandainya upacara itu tidak berhasil seperti yang dikatakan dalam kitab-kitab suci? Apakah Prabu Drupada akan membunuh kami semua, dengan alasan bahwa kami tidak cukup khusyuk berdoa? Dulu mungkin aku akan tertawa kalau ada yang mengatakan raja kami bisa melakukan itu. Tetapi keadaan sudah berubah sejak Drona muncul di istana.”
Aku ingin bertanya tentang Drona, tetapi aku sudah tahu apa yang akan di katakan Dhai Ma.
Kamu memang tidak sabaran, seperti biji mostar  yang meledak-ledak bahkan dalam minyak, meskipun kau sudah cukup umur untuk dinikahkan sekarang! Setiap cerita akan muncul pada waktunya.
“Jadi, waktu ayahmu yang raja itu bangkit berdiri dan menuangkan kendi ghee terakhir ke dalam api, kami semua menahan napas. Aku berdoa lebih keras daripada yang pernah kulakukan sepanjang hidupku—meskipun aku bukan berdoa demi kakakmu. Kallu, yang waktu itu magang menjadi tukang masak, memacariku dan aku tidak ingin mati sebelum mengalami kesenangan dengan hadirnya seorang laki-laki di tempat tidurku. Tetapi sekarang, setelah tujuh belas tahun kita menikah...”
Di sini Dhai Ma sempat terjebak pada pembicaraam tentang Kallu, berarti hari ini akku tidak akan mendegar kelanjutan ceritanya.
“Lalu asap membumbung naik,” aku memotong dengan tangkas, penuh pengalaman. Dhai Ma menurut dan terserap kembali ke dalam cerita itu “Ya, dan asapnya berbau busuk, berbentuk spiral, dengan suara-suara di dalamnya. Suara-suara itu berkata, Ini dia putra yang kauminta. Dia akan memberimu balas dendam yang kau dambakanm tetapi itu akan mematahkan hidupmu.
Aku tidak peduli tentang itu, kata ayahmu. Berikan dia kepadaku.
“Lalu kakakmu keluar dari dalam api”
Aku duduk tegak untuk mendengarkan lebih cermat. Aku menyukai bagian cerita ini. “Seperti apa rupanya.”
“Dia pangeran sejati, dia itu! Dahinya tampak mulia. Wajahnya bersinar seperti emas. Bahkan pakaiannya juga keemasan. Dia jangkung dan gagah berani, meskipun umurnya belum sampa lima tahun, tetapi matanya membuatku cemas. Terlalu lembut. Aku berkata kepada diriku sendiri, bagaimana mungkin anak ini bisa membalas dendam bagi Prabu Drupada? Bagaimana mungkin anak ini bisa membunuh pejuang mengerikan seperti Drona?
Aku juga mencemaskan kakakku, meskipun dengan cara berbeda. Dia pasti akan sukses dalam menyelesaikan tugas yang diembannya sejak lahir, aku tidak meragukan itu. Tetapi apa akibatnya kepadanya?
Aku tidak ingin memikirkannya. “Lalu?”
Dhai Ma menyeringai. “tidak bisa menunggu sampai kau muncul ya, Nyonya sibuk membicarakan diri sendiri? Lalu sikapnya menjadi lebih lembut.
“Sebelum kami selesai bertepuk tangan dan bersorak-sorai, bahkan sebelum ayamu sempat menyambut kakakmu kau sudah muncul. Kau berkulit gelap, sementara dia berkulit putih, kau tergesa-gesa sementara dia tenang. Sambil batuk-batu karena asap, tersandung ujung sarinmu, kau meraih tangannya dan hampir membuat dia terjatuh juga...”    
“Tetapi kami tidak jatuh!”
“Tidak. Entah bagaimana kalian berhasil saling menahan diri tetap tegak. Lalu suara-suara itu datang lagi. Katanya, Lihat, kami memberimu gadis ini, hadiah di lura yang kau minta. Rawatlah dia dengan baik, karena dia akan mengubah jalannya sejarah.”
“Mengubah jalannya sejarah? Betulkah mereka bilang begitu?”
Dhai Ma mengendikkan bahunya. “Begitulah menurut para pendeta. Siapa yang tahu pasti? Kau kan tahu bagaimana suara-suara berkumandang dan bergema di balairung. Raja kelihatan kaget, tetapi dia lalu mengangkat kalian berdua, mendekapkan kalian ke dadanya. Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun aku melihatnya tersenyum. Dia berkata kepada kakakmu, Kunamai kau Drestradyumna. Dia berkata kepadamu, Kunamai kau Dropadi. Lalu kami mengadakan jamuan makan paling hebat yang pernah ada di kerajaan ini.”
Ketika Dhai Ma menghitung dengan jarinya hidangan-hidangan pada jamuan makan itu, sambil mengecapkan lidahnya ketika ia mengingat semua itu dengan gembira, perhatianku beralih ke makna nama-nama yang dipilih ayah kami. Drestadyumna,  Penghancur Musuh. Dropadi, Anak Perempuan Drupada......
Nama Dre masih termasuk ke dalam batas-batas yang bisa diterima—meskipun kalau aku menjadi orangtuanya, barangkali aku akan memilih panggilan yang lebih ceria, seperti Pemenang Angkasa, atau Cahaya Alam Semesta. Tetapi anak perempuan Drupada? Memang, dia tidak menduga kedatanganku, tetapi tak bisakah ayahku mencari nama yang tidak begitu egoistis? Nama yang lebih cocok untuk perempuan yang katanya akan mengubah sejarah?
Aku mau dipanggil Dropadi untuk saat ini karena aku tidak punya pilihan. Tetapi nantinya, nama ini tidak akan bertahan. Aku membutuhkan nama yang lebih gagah.
Pada malam-malam hari, sesudah Dhai Ma masuk ke ruangannya sendiri, aku berbaring di atas tempat tidurku yang tinggi dan keras, dengan tiang-tiang kokoh, dan memperhatikan lampu minyak melontarkan bayang-bayang yang bergoyang-goyang ke atas batu-batu bopeng pada dinding. Saat itu aku memikirkan ramalan tersebut, dengan perasaan rindu sekaligus takut. Aku ingin ramalan itu benar adanya. Tetapi apakah aku punya bakat menjadi pahlawan—keberanian, keuletan, kehendak yang tidak terpatahkan? Dan terkurung seperti ini di dalam mausoleum istana ini, bagaimana sejarah akan pernah menemukan aku?
Tetapi yang paling banyak kupikirkan adalah sesuatu yang tidak diketahui Dhai Ma, sesuatu yang mengerogoti hatiku bagai karat menghancurkan jeruji-jeruji jendelaku: apa yang sebenarnya terjadi ketika aku keluar dari api.
Kalau memang ada suara-suara, seperti dikatakan Dhai Ma, meramalkan kehidupanku dalam raungan kata-kata yang tidak jelas, maka mereka belum datang. Jilatan api berwarna jingga lenyap: udara tiba-tiba dingin. Balairung kuno itu berbau dupa, dan di bawahnya, ada bau yang lebih tua: keringat perang da kebencian. Laki-laki kurus bercahaya, berjalan ke arah kakakku yang diniatkan untuk diangkatnya, untuk ditunjukkan kepada rakyatnya. Hanya kakakku yang dia inginkan. Dre tentu saja tidak mau melepaskanku, begitu juga aku. Kami berpegangan begitu erat, sehingga ayahku terpaksa mengangkat kami berdua.
Aku tidak akan lupa keraguan itu, meskipun dalam tahun-tahun berikutnya Prabu Drupada dengan seksama memenuhi kewajibannya sebagai ayah dan memberikan kepadaku semua yang diyakini perlu di miliki putri raja. Kadang-kadang kalau aku mendesaknya, dia bahan memberiku hak istimewa yang tidak diberikannya kepada anak-anak perempuannya yang lain. Dengan caranya yang kasar dan obsetif, dia bermurah hati, bahkan mungkin terlalu baik hati. Tetapi aku tidak bisa memaafkan penolakan awalnya itu. Mungkin gara-gara itulah waktu aku tumbuh dari gadis kecil menjadi perempuan muda, aku tidak sepenuhnya mempercayainya.
Aku mengalihkan kekesalan yang tidak bisa kuungkapkan kepada ayahnya, ke istananya. Aku membenci lempengan-lempengan tebal kelabu dinding-dindingnya yag mengelilingi tempat tinggal kami—lebih cocok untuk benteng daripada tempat tinggal raja—bagian atasnya dipenuhi pengawal. Aku benci jendela-jendela sempit, lorong-lorong jelek remang-remang, lantai tidak rata yang selalu lembab, perabot kaku dan besar peninggalan generasi-generasi sebelumnya yang ukurannya lebih sesuai untuk raksasa daripada manusia. Yang paling kubenci adalah pekarangan yang sama sekali tidak berpohon atau berbunga. Prabu Drupada berpendapat pohon berbahaya bagi keamanan, menghalangi pandangan para pengawal. Sedangkan bunga dianggapnya tidak berguna—dan apapun yang menurut ayahku tidak berguna, dia singkirkan dari kehidupannya. Kalau memandang ke bawah dari kamarku ke lahan gersang yang membentang di bawah, aku merasa kesedihan menyelubungi pundakku seperti selendang besi. Aku berjanji kepada diriku sendiri, kalau aku mempunyai istana sendiri, keadaanya akan sama sekali berbeda. Aku memejamkan mataku dan membayangkan keramaian warna dan bunyi, burung-burung bernyanyi di kebun mangga dan kebun buah nona, kupu-kupu berterbangan di antara bunga-bunga melati, dan di tengahnya—tetapi aku belum bisa membayangkan bentuk rumahku yang akan datang. Apakah anggun seperti kristal? Mewah seperti gelas bertahtahkan berlian? Halus dan rumit seperti hiasan-hiasan benang emas? Yang kutahu hanyalah rumahku akan mencerminkan kepribadianku yang sejati. Di sanalah aku akhirnya merasa kerasan.
Tahun-tahun di rumah ayahku pasti tidak tertahankan kalau kakakku tidak ada. Aku tidak akan lupa sentuhan tangannya yang menggenggam tanganku, bagaimana dia menolak meninggalkan aku. Kalaupun tidak demikian, barangkali dia dan aku akan tetap dekat, meskipun kami terpisahkan dalam sayap istana yang disediakan ayah kami—entah karena rasa sayang atau takut, aku tidak tahu pasti. Tetapi kesetian yang pertama ini  membuat kami tidak terpisahkan. Kami saling sikap protektif yang besar dari dunia yang memandang kami sebagai tidak sepenuhnya normal, dan saling menghibur dalam kesepian. Kami tidak pernah membicarakan apa arti kami terhadap satu sama lain—Dre merasa tidak nyaman dengan pengungkapan yang berlebihan. Tepai kadang-kadang aku menulis surat kepadanya di dalam pikiranku, merangkai kata-kata menjadi metafora yang sangat berlebihan. Aku akkan menyayangimu, Dre, sampai Brahman Agung menarik kembali alam semesta ke dalam diri-Nya, seperti laba-laba menarik sarangnya,
Waktu itu aku tidak tahu seberapa kerasnya rasa sayang itu akan diuji, atau seberapa besar pengorbanan yang diminta diri kami......

Demikian reviewnya saya siapkan untuk membantu lady menimbangkan review buku ini..... Opini saya, saya suka dengan cerita ini, membawa kita berimaginasi, saya bahkan membaca buku berulang-ulang....

No comments:

Post a Comment