Hai
ladies.... kali ini buku yang akan saya share bernuansa India.. yups kisahnya
sangat sangat sangat bagus... (saya sampai
baca berulang-ulang kali). Seperti biasa saya akan memberikan bagian
pertama kepada kalian, jadi sebelumnya kalian bisa merasakan apakah buku ini
memang merupakan selera cerita kalian atau belum termasuk, jika sudah termasuk
dan kalian merasa tertarik ,.. sangat tertarik, kalian bisa membeli buku ini
tanpa rasa menyesal. Siap!! Mari kita mulai....
Judul Buku : The
Palace of Illusions ( Istana Khayalan )
Karya : Chitra
Banerjee Divakaruni
TENTANG PENULIS
BAB I
Selama
tahun-tahun panjang dan kesepian masa kecilku, ketika istana ayahku seakan-akan
mempererat cengkramannya atas diriku hingga aku tidak bisa bernafas, sering aku
pergi kepada pengasuhkku untuk meminta dongeng. Dan meskipun dia tahu banyak
kisah menajubkan dan mengingkatkan moral, kisah yang selalu kuminta
diceritakannya berulang-ulang adalah kisah kelahiranku. Kupikir aku menyukai
kisah itu karena membuatku merasa istimewa, dan pada masa itu tidak ada hal
lain yang bisa membuatku merasa seperti itu. Barangkali Dhai Ma menyadari hal
ini. Barangkali karena itulah dia menuruti tuntutanku, meskipun kami berdua
tahu seharusnya aku menggunakan waktuku secara lebih bermanfaat, dengan cara
yang lebih pantas bagi putri Prabu Drupada, penguasa Panchala, salah satu
kerajaan paling kaya di Benua Bharat.
Kisah
ini mengilhamihku untuk mengarang nama-nama khayalan bagi diriku sendiri:
Keturunan Dendam, atau dia yang Tidak Terduga. Tetapi Dhai Ma menggembungkan
pipinya melihat kecenderunganku pada drama, dan menyebutku Gadis yang Tidak
Diundang. Siapa tahu, mungkin dia lebih benar daripada aku.
Siang
musin dingin ini, sambil duduk bersila di dalam sercercah chaya matahari yang
berhasil menerobos masuk melalui celah jendela, dia berkata, “Waktu kakak
laki-lakimu melanngkah keluar dari api pengorbanan ke atas ubin batu dingin
balairung istana, semua hadirin berteriak kagum.”
Dhai Ma
sedang mengupas polong. Aku memperhatikan jari-jarinya yang bergerak cepat
dengan perasaan iri, sangat berharap dia membiarkan aku membantunya. Tetapi
Dhai Ma mempunya pendapat khusus tentang kegiatan-kegiatan yang tidak pantas
bagi putri-putri raja.
“Sekedip
mata kemudian,” lanjutnya “waktu kau keluar dari api, kami semua terperangah.
Susanan hening sekali, sampai kentut lalat saja bisa terdengar.”
Aku
mengingatkannya bahwa lalat tidak bisa melakukan faal tubuh yang itu.
Dhai Ma
tersenyum dengan senyumannya yang cerdik dan mata menyipit. “Nak, hal-hal yang
tidak kau ketahui bisa memenuhi samudra putih susu tempat Batara Wisnu tidur,
dan tumpah ruah dari pinggirannya.”
Aku
ingin mengungkapkan rasa tersunggungku, tetapi aku ingin mendengar kisah itu.
Maka aku menahan diri untuk tidak bicara, dan sesudah beberapa saat Dhai Ma
mulai bercerita kembali.
“Kami
sudah berdoa selama tiga puluh hari, sejak mulai matahari terbit hingga
matahari terbenam. Kami semua: ayahmu, keseratus pendeta yang diundangnya ke
Kampilya untuk melakukan upacara Upajaya, para permaisuri, menteri dan tentu
saja para pelayan. Kami juga berpuasa—memang kami tidak punya pilihan lain—hanya
satu kali makan setiap sore, nasi pipih yang direndam dalam susu. Prabu Drupada
bahkan tidak mau makan itu. Dia hanya minum air yang dibawa dari Gangga yang
suci, agar para dewa merasa wajib mengabulkan doa-doanya.”
“Bagaimana
rupanya?”
“Dia
kurus seperti ujung pedang, dan sama kerasnya. Semua tulangnya bisa dihitung.
Matanya yang melesak jauh ke dalam rongga matanya, bersinar-sinar seperti
mutiara hitam. Dia nyaris tidak bisa menegakkan kepalanya, tetapi tentu saja
dia tidak sudi melepaskan mahkita besar itu, yang selalu di pakainya—semua
orang belum pernah melihatnya tanpa mehkota itu, bahkan istri-istrinya juga
tidak, di tempat tidur pun tidak.
Dhai Ma
sangat cermat memperhatikan detail. Ayah kini masih sama saja, meskipun
usia—dan keyakinan bahwa akhirnya dia sudah dekat dengan apa yang telah begitu
lama didambakannya—sudah melunakkan wataknya yang tidak sabaran.
“Ada
orang-orang,” lanjut Dhai Ma, “yang menyangka dia akan meninggal, tetapi aku
tidak begitu cemas akan hal itu. Siapa pun yang menginginkan balas dendam
begitu kuat seperti ayahmu yang raja itu, tidak akan dengan mudah melepaskan
tubuh dan napasnya.” Dia mengunyah segenggam polong sambil merenung.
“Akhirnya,”
aku mendesaknya, “sudah hari ketiga puluh.”
“Dan aku
sangat bersyukur atas hal itu. Susu dan gabah memang baik untuk pendeta dan
janda, tetapi aku lebih suka kari ikan dengan cabai hijau dan acar asam kapan
saja! Lagipula, tenggorokanku sampai sakit gara-gara mengocehkan kata-kata
Sansekerta yang susah diucapkan itu. Dan pantatku, sumpah rata gara0gara duduk
di lantai batu yang dingin itu.
“Tetapi
aku juga takut, dan waktu itu aku melirik ke sana kemari, kulihat bukan aku
saja yang ngeri. Bagaimana seandainya upacara itu tidak berhasil seperti yang
dikatakan dalam kitab-kitab suci? Apakah Prabu Drupada akan membunuh kami
semua, dengan alasan bahwa kami tidak cukup khusyuk berdoa? Dulu mungkin aku
akan tertawa kalau ada yang mengatakan raja kami bisa melakukan itu. Tetapi
keadaan sudah berubah sejak Drona muncul di istana.”
Aku ingin
bertanya tentang Drona, tetapi aku sudah tahu apa yang akan di katakan Dhai Ma.
Kamu memang tidak sabaran, seperti biji mostar yang meledak-ledak bahkan dalam minyak,
meskipun kau sudah cukup umur untuk dinikahkan sekarang! Setiap cerita akan
muncul pada waktunya.
“Jadi,
waktu ayahmu yang raja itu bangkit berdiri dan menuangkan kendi ghee terakhir ke dalam api, kami semua
menahan napas. Aku berdoa lebih keras daripada yang pernah kulakukan sepanjang
hidupku—meskipun aku bukan berdoa demi kakakmu. Kallu, yang waktu itu magang
menjadi tukang masak, memacariku dan aku tidak ingin mati sebelum mengalami
kesenangan dengan hadirnya seorang laki-laki di tempat tidurku. Tetapi
sekarang, setelah tujuh belas tahun kita menikah...”
Di sini
Dhai Ma sempat terjebak pada pembicaraam tentang Kallu, berarti hari ini akku
tidak akan mendegar kelanjutan ceritanya.
“Lalu
asap membumbung naik,” aku memotong dengan tangkas, penuh pengalaman. Dhai Ma
menurut dan terserap kembali ke dalam cerita itu “Ya, dan asapnya berbau busuk,
berbentuk spiral, dengan suara-suara di dalamnya. Suara-suara itu berkata, Ini dia putra yang kauminta. Dia akan
memberimu balas dendam yang kau dambakanm tetapi itu akan mematahkan hidupmu.
“Aku tidak peduli tentang itu, kata ayahmu. Berikan dia
kepadaku.
“Lalu
kakakmu keluar dari dalam api”
Aku
duduk tegak untuk mendengarkan lebih cermat. Aku menyukai bagian cerita ini.
“Seperti apa rupanya.”
“Dia
pangeran sejati, dia itu! Dahinya tampak mulia. Wajahnya bersinar seperti emas.
Bahkan pakaiannya juga keemasan. Dia jangkung dan gagah berani, meskipun
umurnya belum sampa lima tahun, tetapi matanya membuatku cemas. Terlalu lembut.
Aku berkata kepada diriku sendiri, bagaimana
mungkin anak ini bisa membalas dendam bagi Prabu Drupada? Bagaimana mungkin
anak ini bisa membunuh pejuang mengerikan seperti Drona?
Aku juga
mencemaskan kakakku, meskipun dengan cara berbeda. Dia pasti akan sukses dalam
menyelesaikan tugas yang diembannya sejak lahir, aku tidak meragukan itu.
Tetapi apa akibatnya kepadanya?
Aku
tidak ingin memikirkannya. “Lalu?”
Dhai Ma
menyeringai. “tidak bisa menunggu sampai kau muncul ya, Nyonya sibuk
membicarakan diri sendiri? Lalu sikapnya menjadi lebih lembut.
“Sebelum
kami selesai bertepuk tangan dan bersorak-sorai, bahkan sebelum ayamu sempat menyambut
kakakmu kau sudah muncul. Kau berkulit gelap, sementara dia berkulit putih, kau
tergesa-gesa sementara dia tenang. Sambil batuk-batu karena asap, tersandung
ujung sarinmu, kau meraih tangannya dan hampir membuat dia terjatuh juga...”
“Tetapi kami
tidak jatuh!”
“Tidak.
Entah bagaimana kalian berhasil saling menahan diri tetap tegak. Lalu
suara-suara itu datang lagi. Katanya, Lihat,
kami memberimu gadis ini, hadiah di lura yang kau minta. Rawatlah dia dengan
baik, karena dia akan mengubah jalannya sejarah.”
“Mengubah jalannya sejarah?
Betulkah mereka bilang begitu?”
Dhai Ma
mengendikkan bahunya. “Begitulah menurut para pendeta. Siapa yang tahu pasti?
Kau kan tahu bagaimana suara-suara berkumandang dan bergema di balairung. Raja
kelihatan kaget, tetapi dia lalu mengangkat kalian berdua, mendekapkan kalian
ke dadanya. Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun aku melihatnya
tersenyum. Dia berkata kepada kakakmu, Kunamai
kau Drestradyumna. Dia berkata kepadamu, Kunamai kau Dropadi. Lalu kami mengadakan jamuan makan paling hebat
yang pernah ada di kerajaan ini.”
Ketika
Dhai Ma menghitung dengan jarinya hidangan-hidangan pada jamuan makan itu,
sambil mengecapkan lidahnya ketika ia mengingat semua itu dengan gembira,
perhatianku beralih ke makna nama-nama yang dipilih ayah kami.
Drestadyumna, Penghancur Musuh. Dropadi,
Anak Perempuan Drupada......
Nama Dre
masih termasuk ke dalam batas-batas yang bisa diterima—meskipun kalau aku
menjadi orangtuanya, barangkali aku akan memilih panggilan yang lebih ceria,
seperti Pemenang Angkasa, atau Cahaya Alam Semesta. Tetapi anak perempuan
Drupada? Memang, dia tidak menduga kedatanganku, tetapi tak bisakah ayahku
mencari nama yang tidak begitu egoistis? Nama yang lebih cocok untuk perempuan
yang katanya akan mengubah sejarah?
Aku mau
dipanggil Dropadi untuk saat ini karena aku tidak punya pilihan. Tetapi
nantinya, nama ini tidak akan bertahan. Aku membutuhkan nama yang lebih gagah.
Pada
malam-malam hari, sesudah Dhai Ma masuk ke ruangannya sendiri, aku berbaring di
atas tempat tidurku yang tinggi dan keras, dengan tiang-tiang kokoh, dan
memperhatikan lampu minyak melontarkan bayang-bayang yang bergoyang-goyang ke
atas batu-batu bopeng pada dinding. Saat itu aku memikirkan ramalan tersebut,
dengan perasaan rindu sekaligus takut. Aku ingin ramalan itu benar adanya.
Tetapi apakah aku punya bakat menjadi pahlawan—keberanian, keuletan, kehendak
yang tidak terpatahkan? Dan terkurung seperti ini di dalam mausoleum istana
ini, bagaimana sejarah akan pernah menemukan aku?
Tetapi
yang paling banyak kupikirkan adalah sesuatu yang tidak diketahui Dhai Ma,
sesuatu yang mengerogoti hatiku bagai karat menghancurkan jeruji-jeruji
jendelaku: apa yang sebenarnya terjadi ketika aku keluar dari api.
Kalau
memang ada suara-suara, seperti dikatakan Dhai Ma, meramalkan kehidupanku dalam
raungan kata-kata yang tidak jelas, maka mereka belum datang. Jilatan api
berwarna jingga lenyap: udara tiba-tiba dingin. Balairung kuno itu berbau dupa,
dan di bawahnya, ada bau yang lebih tua: keringat perang da kebencian.
Laki-laki kurus bercahaya, berjalan ke arah kakakku yang diniatkan untuk
diangkatnya, untuk ditunjukkan kepada rakyatnya. Hanya kakakku yang dia
inginkan. Dre tentu saja tidak mau melepaskanku, begitu juga aku. Kami
berpegangan begitu erat, sehingga ayahku terpaksa mengangkat kami berdua.
Aku
tidak akan lupa keraguan itu, meskipun dalam tahun-tahun berikutnya Prabu
Drupada dengan seksama memenuhi kewajibannya sebagai ayah dan memberikan
kepadaku semua yang diyakini perlu di miliki putri raja. Kadang-kadang kalau
aku mendesaknya, dia bahan memberiku hak istimewa yang tidak diberikannya
kepada anak-anak perempuannya yang lain. Dengan caranya yang kasar dan obsetif,
dia bermurah hati, bahkan mungkin terlalu baik hati. Tetapi aku tidak bisa memaafkan
penolakan awalnya itu. Mungkin gara-gara itulah waktu aku tumbuh dari gadis
kecil menjadi perempuan muda, aku tidak sepenuhnya mempercayainya.
Aku
mengalihkan kekesalan yang tidak bisa kuungkapkan kepada ayahnya, ke istananya.
Aku membenci lempengan-lempengan tebal kelabu dinding-dindingnya yag
mengelilingi tempat tinggal kami—lebih cocok untuk benteng daripada tempat
tinggal raja—bagian atasnya dipenuhi pengawal. Aku benci jendela-jendela
sempit, lorong-lorong jelek remang-remang, lantai tidak rata yang selalu
lembab, perabot kaku dan besar peninggalan generasi-generasi sebelumnya yang
ukurannya lebih sesuai untuk raksasa daripada manusia. Yang paling kubenci
adalah pekarangan yang sama sekali tidak berpohon atau berbunga. Prabu Drupada
berpendapat pohon berbahaya bagi keamanan, menghalangi pandangan para pengawal.
Sedangkan bunga dianggapnya tidak berguna—dan apapun yang menurut ayahku tidak
berguna, dia singkirkan dari kehidupannya. Kalau memandang ke bawah dari
kamarku ke lahan gersang yang membentang di bawah, aku merasa kesedihan
menyelubungi pundakku seperti selendang besi. Aku berjanji kepada diriku
sendiri, kalau aku mempunyai istana sendiri, keadaanya akan sama sekali
berbeda. Aku memejamkan mataku dan membayangkan keramaian warna dan bunyi, burung-burung
bernyanyi di kebun mangga dan kebun buah nona, kupu-kupu berterbangan di antara
bunga-bunga melati, dan di tengahnya—tetapi aku belum bisa membayangkan bentuk
rumahku yang akan datang. Apakah anggun seperti kristal? Mewah seperti gelas
bertahtahkan berlian? Halus dan rumit seperti hiasan-hiasan benang emas? Yang
kutahu hanyalah rumahku akan mencerminkan kepribadianku yang sejati. Di sanalah
aku akhirnya merasa kerasan.
Tahun-tahun
di rumah ayahku pasti tidak tertahankan kalau kakakku tidak ada. Aku tidak akan
lupa sentuhan tangannya yang menggenggam tanganku, bagaimana dia menolak
meninggalkan aku. Kalaupun tidak demikian, barangkali dia dan aku akan tetap
dekat, meskipun kami terpisahkan dalam sayap istana yang disediakan ayah
kami—entah karena rasa sayang atau takut, aku tidak tahu pasti. Tetapi kesetian
yang pertama ini membuat kami tidak
terpisahkan. Kami saling sikap protektif yang besar dari dunia yang memandang
kami sebagai tidak sepenuhnya normal, dan saling menghibur dalam kesepian. Kami
tidak pernah membicarakan apa arti kami terhadap satu sama lain—Dre merasa
tidak nyaman dengan pengungkapan yang berlebihan. Tepai kadang-kadang aku
menulis surat kepadanya di dalam pikiranku, merangkai kata-kata menjadi
metafora yang sangat berlebihan. Aku
akkan menyayangimu, Dre, sampai Brahman Agung menarik kembali alam semesta ke
dalam diri-Nya, seperti laba-laba menarik sarangnya,
Waktu
itu aku tidak tahu seberapa kerasnya rasa sayang itu akan diuji, atau seberapa
besar pengorbanan yang diminta diri kami......
Demikian reviewnya saya siapkan untuk membantu lady
menimbangkan review buku ini..... Opini saya, saya suka dengan cerita ini,
membawa kita berimaginasi, saya bahkan membaca buku berulang-ulang....
No comments:
Post a Comment