Search This Blog

Friday, October 30, 2015

Novel Midah Si Manis Bergigi Emas



Hai ladies... buku yang akan saya share kali ini berasal dari Indonesia, pengarangnya sangat terkenal dan buku ini menceritakan Indonesia banget, cintai cerita negeri sendiri dulu ya sebelum mencintai buku dari luar ( lagi demam patriotisme ) .... yuk langsung aja... 



Judul Buku : MIDAH Simanis Bergigi Emas

Karya : Pramoedya Ananta Toer  

TENTANG PENULIS


Pramoedya Ananta Toer lahir pada 1925 di Blora, Jawa Tengah, Indonesie. Hampir separuh hidupnya dihabiskan dalam penjara—sebuah wajah semesta yang paling purba bagi manusia-manusia bermartabat : 3 tahun dalam penjara kolonial, 1 tahun di Order Lama dan 14 tahun yang melelahkan di Orde Baru ( 13 Okt 1965 – Juli 1969 ), pulau Nusa-kambangan Juli 1969 – 16 Agustus 1969, Pulau Buru Agustus 1969 – 12 November 1979 tanpa proses pengadilan. Pada tanggal 21 desember 1979 Pramoedya Ananta Toer mendapat surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat G30S PKI tetapi masih dikenakan tahanan rumah, tahanan kota, tahanan negara sampai tahun 1999 dan wajib lapor ke Kodim Jakarta Timur satu kali seminggu selama kurang lebih 2 tahun. Beberapa karyanya lahir dari tempat purba ini, diantaranya Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca ) .
Penjara tak membuatnya berhenti sejengkal pun menulis. Baginya, menulis adalah tugas pribadi dan nasional. Dan ia konsekuen terhadap semua akibat yang ia peroleh. Berkali-kali karyanya dilarang dan dibakar.
Dari  tangannya yang dingin telah lahir lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing. Karena kiprahnya di gelanggang sastra dan kebudayannya, Pramoedya Ananta Toer dianugerahi berbagai pengghargaan internasional, di antaranya: The PEN freedom to write Award pada tahun 1988, Ramon Magsaysay Award pada 1995, Fukuoka Cultur Grand Price, Jepan pada tahun 2000 dan pada tahun 2004 mendapatkan penghargaan The Norwegian Authors Union dan Pablo Lagos Escobar. Sampai kini, ia adalah satu-satunya wakil Indonesia yang namanya berkali-kali masuk dalam daftar Kandidat Pemenang Nobel Sastra.
 


SINOPSIS

Midah, pada awalnya berasal dari keluarga terpandang dan beragama. Karena ketidakadilan dalam rumah, ia memilih kabur dan terhempas ke tengah jalanan Jakarta tahun 50-an yang ganas. Ia tampil sebagai oranng yang tidak mudah menyerah dengan nasi hidup, walaupun ia hanya seorang penyanyi dengan panggilan “si manis bergigi emas” dalam kelompok pengamen keliling dari satu resto ke resto, bahkan dari pintu ke pintu rumah warga.
Dalam kondisi hamil berat, Midah memang tampak kelelahan. Tapi manusia tidak boleh menyerah pada kelelahan. Hawa kehidupan jalanan yang liar dan ganas harus diarungi. Dan ujung-ujungnya Midah memang kalah ( secara moral) dalam pertarungan hidup
 


“Ah, saudara, manusia ini kenal satu sama lain, tapi tidak dengan dirinya sendiri..... Memang tidak ada hasilnya untuk kemakmuran kita hendak mengenal diri, karena dia takan menghasilkan kekayaan.”

Pramoedya Ananta Toer


BAGIAN PERTAMA

Kalau mereka kelak pulang ke Cibatok, semua kawan-kawannya yang dahulu begitu penakut tak berani merantau ke Jakarta. Pasti akan datang berjejal di rumah dan mengagumi mereka. Apalagi! Kerja di Jakarta. Kumpul-kumpul uang, dan akhirnya terbeli juga rumah di Cibatok. Bukan rumah bambu seperti kawan-kawannya punya. Kayu, setengah tembo! Itupun belum lagi. Cita-citanya yang terbesar sudah terkabul pula, dan sekarang kawan-kawannya menyebutnya Hadji Abdul. Ah, hidup ini alangkah manis kalau cita demi cita terampas di tangan.
Itupun belum seluruhnya. Midah begitu manis dan montok dan tujuh atau delapan tahun lagi dia akan menguasai seluruh hati pemuda yang bakalnya bisa jadi haji, bisa mengaji begitu mengharukan seperti Syeh Ali Mubarrak, yang dikenalnya di Kairo.
Kairo! Siapa pula di antara kawan-kawannya yang penakut iu pernah dengar nama itu. Itupun belum lagi habis. Masih ada kebesaran yang tidak terlawankan: bisa bercerita sambil berbisik tentang Umi Kalsum—itu biduan Mesir yang menawan hati penduduk di kampung-kampung Jakarta.
Dan Haji Abdul tidaklah merugi tiap hari mengucapkan syukur kepada Tuhannya yeng telah begitu murah terhadapnya—memberinya segala kesenangan dan kenikmatan yang sejak kecil didambakannya. Dan ia yakin, apabila seluruh umat seibadah dirinya, tidak lama lagi—dan di dunia benar-benar akan berubah menjadi sorga.
Tiap hari ia bawa tubuhnya yang mulai menggemuk itu pergi ke toko kulitnya. Dan di sepanjang jalan ia pandangi lalu lintas yang begitu gelisah, begitu pontang-panting dalam keterbanan nasib manusia,--ia menggeleng-gelengkan kepala sambil berjalan kaki, mendoa dengan sekujur hatinya.
Sudi kiranya Tuhan mengampuni kemurtadan mereka. Berilah mereka bimbingan, dan cairkan panasnya hawa nafsu mereka. Tidakkah engkau lepaskan mereka dari siksaan tunggang-langgang tiap hari di jalan-jalan besar yang begitu ramai?
Dan dengan sikapnya yang tenang, ia anggukan kepala kepada buruh yang telah sedia menunggu di depan toko kulitnya. Ia perlakukan semua mereka dengan lemah lembut dan ia beri mereka upah yang patut. Dalam hal ini semua tingkah lakunya ikut menguntungkan jalannya perusahaannya. Ia tak perlu takut menghadapi persaingan baik dari pihak pengusaha asing maupun sebangsanya. Ia tetap percaya kepada kemurahan Tuhannya dalam usaha yang baik dan jujur.
Sore hari ia puang kembali ke rumah di antara anaknya si Midah dan bininya. Sudah dapat ditentukan ia duduk di kursi goyang sambil mendengarkan piring hitam yang membawakan suaran Umi Kalsum kepadanya. Juga sudah dapat ditentukan Midah duduk di pangkuannya, dan ia mengelus-elus pipinya yang montok sambil merestui selamat dalam hatinya.
Keyakinannya pada Tuhannya telah menyediakan jalan-jalan yang tegas dan menuju ke arah yang pasti bagi Hadji Abdul. Ketegasan, kepastian, ditambah dengan keyakinan pada kebaikan menyebabkan ada sesuatu kekuatan padanya yang sanggup menundukkan daerah selingkungannya. Dan karena keimanannya juga ia tak pernah mencurigai siapapun. Ia bahkan tidak mau—sekalipun hanya dalam otak belaka—berpikir jahat kepada orang lain. Jiwanya tidak pernah tersiksa oleh kekusutan dan kekotoran pikiran. Hatinya selalu aman.
Keinginannya untuk mempunyai anak lagi, selalu ditindasnya. Apabila Tuhan telah menakdirkan, demikian selalu ia berpendapat, pada suatu kali yang baik dia akan datang ke rumah kami untuk menjadi anak kami.
Hingga Midah berumur sembilan tahun, anak baru itu tak juga datang. Dan sewaktu umur Midah bertambah setahun lagi, anak baru itu tak juga datang. Mulai saat itu kebimbangan merayap dalam hatinya. Bahkan sekali ia pernah mengucapkan kata-kata: “Biarlah semua aku kurbankan, asalkan mendapat anak lagi—terutama lelaki”
Dan sehabis mengucapkan kata-kata itu ia menyebut lagi beberapa kali. Ia kaget. Ia merasa dirinya murtad dan ingkar janji pada kehendak Tuhannya. Ia berpuasa. Ia bersedekah. Tetapi kata-kata itu terlepas dan takdir Tuhannya itu merupakan dua kekuatan yang berperang dalam sanubarinya. Ia menyesal terus. Berkali-kali sembahyangnya gagal dan terpaksa ia ulangi dari permulaan, apabila seperti kilat kata-kata terlepas itu menyambar hatinya. Dan ia menggigil—takut pada murka Tuhannya. Ia merasa sudah menerima sebagian terbesar dambaannya dari Tuhan. Dan kini ia ternyata oleh anggapnya sendiri bahwa ia belum merasa bersyukur sepenuh hatinya. Beberapa malam ia tidak bisa tidur, dan untuk membohongi tuntutan keimanannya dari kemungkinan murka Tuhannya, ia terus-menerus berzikir. Kadang-kadang hingga matahari yang kemarin telah datang lagi di ufuk timur.
Pada suatu hari isterinya datang kepadanya dan berbisik: Tuhan telah mengabulkan permintaanmu. Aku mengandung
Sedekah besar-besaran diadakan. Dan waktu bang Sarean siap hendak mengumumkan hajat Hadji Abdul, yang akhir ini belum juga berani menambahkan kepada bag Sarean, bahwa sedekah itupun dimaksudkan untuk mengucapkan syukur bukan saja karena kehendaknya terkabul tetapi juga karena Tuhan telah mengampuni kemungkirannya.
Kembali Hadji Abdul memperoleh kepercayaan-dirinya, sekalipun belum lagi seratus persen. Kandungan isterinya menyebabkan dia memperbuat sesuatu yang sangat dilebih-lebihkannya—tidak lain daripada imbangan pada kegoyahan hati kecilnya. Tapi walau bagaimana juga, keteguhan yang dahulu-dahulu telah hilang dari jiwanya. Kini ia menjadi makhluk, yang setiap sadar merasa celaka, diganggu oleh penyesalan yang tiada habis-habisnya.
Waktu anak kedua lahir, sekali lagi diadakan pesta besar yang menyita banyak sekali dana persediaan uangnya. Tamu datang dari mana-mana. Bahka kawan-kawannya sepermainan Cibatok ia undangi belaka. Seluruh biaya perjalanan ditanggung. Ke sana ke mari ia memperlihatkan tertawanya, cerutu dan makanan yang paling mahal beredar. Lampu menghiasi seluruh sudut perkarangan, dan malam dibuat menjadi siang. Ia sambut semuanya dengan senyum berdaulat.
Tetapi waktu pesta telah habis, kegelisahannya kembali mengamuk. Sesalannya karena ucapan yang mengingkari takdir Tuhannya mengintip tiap saat ia miliki kesadaran budinya. Akhirnya anak kedua menjadi sasaran kegelisahannya. Ia lebihkan segala-gala daripada apa yang ia pernah sediakan untuk Midah.
Belum setahun kemudia Hadji Abdul mendapat anak kembar lelaki. Setahun kemudiannya lagi ia memperoleh anak perempuan. Terus-menerus. 



dari doki2babe : novel ini banyak sekali memperlihatkan pandangan masyrakat Indonesia pada jaman tersebut, layak banget buat kalian baca karena ini karya dari kita sendiri, orang luar negeri saja kagum sama cerita... so sebelum membaca novel-novel terjemahan luar negeri ada baiknya kita membaca novel dalam negeri juga ladies...  Sekian review saya. have a nice day... :)  

No comments:

Post a Comment