Hai ladies.......
Ini adalah review buku pertama yang akan saya muat dalam blog baru ini.
Salah satu saya hobi saya adalah membaca, biasanya saya dan teman saya akan
berburu ke Gramedia setiap akhir bulan ( cie...jadi
ingat masa-masa muda dulu, sekarang masih muda kok hehehe ).
Tapi berhubung banyaknya aktifitas dan minat baru yang sedang dikembangkan ( plus kamar kecil mungilku udah gak muat dengan buku) jadi saya udah jarang ke toko buku, kecuali kalau memang ada buku yang bagus banget dan pas dengan selera ceritaku baru bela-belain ke ke toko buku lagi...
Okelah mulai aja yah saya masukan judul buku, pengarang, sinopsis dan juga 5 halaman pertama dari buku ini. Jadi kalau kalian udah baca trus merasa tertarik kalian bisa beli. Sebenarnya saya ingin bikinkan versi PDF, tapi itu melanggar undang-undang dan kasian juga sama yang menulis bukunya, walaupun saya tahu beli buku itu mahal (saya pun juga harus nabung buat beli buku itu, sampe gak jajan di sekolah) tapi jika kita benar – benar mencintai buku kita pasti bisa kok nabung buat beli buku... Sekian pembukaannya.....
Tapi berhubung banyaknya aktifitas dan minat baru yang sedang dikembangkan ( plus kamar kecil mungilku udah gak muat dengan buku) jadi saya udah jarang ke toko buku, kecuali kalau memang ada buku yang bagus banget dan pas dengan selera ceritaku baru bela-belain ke ke toko buku lagi...
Okelah mulai aja yah saya masukan judul buku, pengarang, sinopsis dan juga 5 halaman pertama dari buku ini. Jadi kalau kalian udah baca trus merasa tertarik kalian bisa beli. Sebenarnya saya ingin bikinkan versi PDF, tapi itu melanggar undang-undang dan kasian juga sama yang menulis bukunya, walaupun saya tahu beli buku itu mahal (saya pun juga harus nabung buat beli buku itu, sampe gak jajan di sekolah) tapi jika kita benar – benar mencintai buku kita pasti bisa kok nabung buat beli buku... Sekian pembukaannya.....
Judul : East Wind West Wind
Author : PEARL S.
BUCK
TENTANG PENULIS
Pearl
Sydenstricker Buck lahir di West Virginia dan dibawa ke Cina sebelum peralihan
abad ketika ia masih bayi. Orangtuanya adalah seorang misionari Protestan, dan
beliau tinggal bersama keluarganya di kota pedalaman dan bukan di kamp
misionari yang lazim. Buck tumbuh besar menggunakan bahasa Cina maupun Inggris,
dan sebagian pendidikannya diterima dari ibunya. Beliau memperoleh gelar M.A
dari Cornell, dan mengajarkan literatur Inggris di beberapa universitas Cina
sebelum beliau terpaksa meninggalkan negeri itu pada tahun 1932 karena
pergolakan revolusi.
Buck
menulis lima puluh buku dan sampai kini beliau merupakan penulis Amerika dengan
karya yang paling banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Buck telah
dianugerahi Pulitzer Prize, William Dean
Howells Award dan Nobel Prize for
Literature. East Wind: West Wind adalah novel pertamanya yang ditulis dan
diterbitkan ketika beliau masih tinggal dan mengajar di Universitas of Nanking
pada akhir tahun 1920-an. Beliau meninggal pada tahun 1973.
SINOPSIS BUKU
“ Kisah cinta yang
menyatukan dua manusia dan latar belakang budaya yang berbeda. “
Buku ini mengisahkan curahan hati Kwei Lan, wanita yang
dididik menurut adat-istiadat Cina kuno. Ia merasa begitu sulit untuk
menyesuaikan diri dengan suaminya yang modern dan berpendidikan Barat. Hal ini
menimbulkan masalah di dalam keluarga besar kedua belah pihak. Dan masalah ini
semakin rumit ketika kakak lelaki Kwei Lan pulang dengan membawa istri
berkebangsaan Amerika. Pertentangan antara Timur dan Barat, antara yang
tradisional dan yang modern, kian meruncing.
BAGIAN PERTAMA
INILAH yang bisa kukatakan kepadamu, Saudariku. Aku
bahkan tak mungkin menceritakannya kepada salah satu dari orang-orang
sebangsaku sendiri, sebab ia takkan mampu memahami negeri jauh tempat suamiku
pernah tinggal selama dua belas tahun. Aku juga tidak bisa berbicara bebas
kepada salah satu dari perempuan-perempuan asing yang tidak mengenal bangsaku
dan cara hidup yang kami jalani sejak zaman kekaisaran kuno. Tetapi kau? Seumur
hidup kau telah tinggal di antara kami. Walaupun kau berasal dari negeri jauh
tempat suamiku mempelajari buku-buku baratny, kau pasti akkan mengerti. Aku
bicara sejujurnya. Aku menyebutmu Saudariku. Aku akan menceritakan segalanya
kepadamu.
Kau tahu
bahwa selama lma ratus tahun leluhurku yang terhormat hidup di kota kuno
Kerajaan Tengah atau Cina ini. Tak satu pun dari antara mereka yang berpikiran
modern ataupun berkeinginan mengubah dirinya. Mereka semua hidup tenang dan
bermartabat, yakin akan kebenaran mereka. Demikianlah orangtuaku mendidik aku
menurut tradisi yang dihormati. Tak pernah terpikirkan olehku untuk
menginginkan perubahan. Tanpa memikirnya, aku menyangka bahwa pendapat orang
lain yang sudah mapan pun sama seperti diriku. Kalaupun aku mendengar sekilas
seperti misalnya dari balik tembok pekarangan, tentang perempuan-perempuang
yang tidak sama denganku, yang datang pergi dengan bebas seperti kaum lelaki,
aku tidak terlalu peduli. Aku tetap menjalankan cara-cara leluhurku yang sudah
diakui selama ini, seperti yang diajarkan kepadaku. Tidak ada satu pun dari
dunia luar yang pernah menyentuhku. Aku tidak mendambakan apapun. Namun,
sekarang tibalah hari ketika aku tidak sabar lagi mengamati makhluk-makhluk
aneh ini--wanita-wanita modern ini—sambil berusaha tahu bagaimana aku bisa
menjadi seperti mereka. Bukan demi kepentinganku sendiri, Saudariku, tetapi
demi kepentingan suamiku.
Ia tidak
menganggapku cantik! Ini terjadi karena ia telah melintasi empat lautan menuju
negeri-negeri asing yang jauh, dan di sanaia telah belajar mencintai berbagai
hal dan cara baru.
Ibuku
wanita yang bijaksana. Ketika pada usia sepuluh tahun aku meninggalkan masa
kanak-kanak dan memasuki usia remaja, ia berkata kepadaku
“Di
hadapan lelaki, seorang perempuan harus tetap berdiam diri bagaikan bunga dan
mengundurkan diri secepat mungkin tanpa bertanya-tanya.”
Oleh
karena itu aku teringat akan apa yang dikatakannya saat berdiri di hadapan
suamiku. Aku tertunduk dan menempatkan kedua tangan di hadapanku. Aku tidak
menjawab sepatah kata pun saat ia berbicara kepadaku. Tapi oh, aku takut
kalau-kalau ia menganggap sikap diamku ini menjemukan!
Ketika aku
mencoba mengingat-ingat apakah ada sesuatu yang menarik untuk kuceritakan
kepadanya, pikiranku ternyata kosong bagaikan sawah yang baru dipanen. Ketika
sedang menyulam seorang diri, aku memikirkan berbagai hal indah yang bisa
kuceritakan kepadanya. Aku akan berkata betapa aku mencintainya tetapi jangan
kau sangka aku akan menyampaikannya dengan kata-kata tak tahu malu yang dikutip
dari dunia Barat yang liar itu. Aku menggunakan kata-kata terselubung seperti
misalnya,
“Tuanku,
apakah kau perhatikan bagaimana fajar menyingsing pada hari ini? Bumi yang
suram ini seakan melompat menyambut kedatangan matahari. Kegelapan yang
tiba-tiba disirima cahaya terang bak ledakan musik membahana! Tuanku, akulah
bumi suram itu, milikmu seorang yang sedang menanti.”
Atau
seperti ini, ketika ia pulang dari berlayar dengan kapal Lotus Lake dan tiba di
malam hari,
“Bagaimana
seandainya lautan yang pucat tidak pernah merasakan bagaimana bulan menarik
permukaannya? Bagaimana kalau ombaknya tidak pernah tersentuh lagi oleh
cahayanya? Oh, tuanku, jagalah dirimu dan kembalilah kepadaku dengan selamat,
supaya jangan aku menjadi sepucat itu tanpa kehadiranmu!”
Namun
begitu ia masuk mengenakan pakaian asing yang aneh itu, aku tak mampu
mengucapkan kata-kata itu. Mungkinkah aku telah menikah dengan orang asing? Ia
jarang berkata-kata dan pandangan matanya kepadaku hanyalah sekilas, meskipun
aku mengenakan pakaian satin merah muda persik dan jepit bertahtahkan mutiara
di rambutku.
Inilah
yang membuatku terluka. Belum sebulan aku menikah, dan di matanya aku tidak
tampak cantik.
Sudah tiga hari ini aku merenung, Saudariku. Aku harus
menggunakan kecerdikanku dan mencari jalan supaya suamiku mau memandangku.
Bukankah aku berasal dari berbagai generasi perempuan yang disayangi oleh tuan
mereka? Selama seratus tahun belum pernah ada seorang pun dari garis keturunan
kami yang tidak cantik, kecuali seorang bernama Kwei-mei dari zaman Dinasti
Sung, yang terserang penyakit cacar ketika ia berusia tiga tahun. Namun, orang
mencatat bahwa bahkan dia pun memiliki sepasang mata yang hitam legam dan indah
bak permata, serta suara yang mampu mengguncang hati lelaki bagaikan angin
membelai pokok-pokok bambu di musim semi. Sang suami begitu mencintainya hingga
dari antara keenam selir yang dimilikinya sebagai orang berada dan berpangkat,
tak seorang pun dari antara mereka yang dicintainya seperti ia mencintai
istrinya. Sedangkan leluhuku yang bernama Kwei-fei yang senang membawa-bawa
burung putih di pergelangan tangannya seakan mengenggam seluruh kekaisaran di
telapak tangannya yang harum itu, karena kaisar, sang Putra Langit,
tergila-gila dengan kecantikannya. Oleh karena itu, aku yang paling hina di antara
mereka yang terhormat ini, tentunya juga memiliki darah mereka yang mengalir di
dalam diriku, dan tulang mereka juga tulangku.
Aku telah
mengamati diriku dalam cermin perunggu. Sungguh bukan demi kepentinganku tetapi
demi kepentingan suamiku sajalah, jika kukatakan kepadamu bahwa masih banyak
perempuan lain yang kurang cantik dibanding diriku. Aku melihat bahwa batas di
antara bagian putih dan hitam mataku tampak jelas. Aku melihat bahwa telinga
kecil dan menempel rapi di kepalaku hingga giwang emas berbatu giok yang
kukenakan terpasang rapat. Aku juga melihat bahwa betuk mulutku mungil, dan
lekuknya sangat serasi dengan bentuk wajahku yang bulat telur. Aku Cuma
berharap seandainya saja wajahku tidak sepucat ini dan alisku lebih panjang
setengah senti ke arah pelipisku. Aku mengatasi kepucatanku dengan mengoleskan
sedikit pemulas merah jambu ke pipiku. Dengan kuas yang dicelukan dengan
pewarna hitam aku menyempurnakan bentuk alisku.
Jadi, aku
pun merasa cukup cantik lalu memperiapkan diri baginya. Namun, begitu
pandangannya tertuju kepadaku, aku merasa bahwa ia tidak melihat apa pun, baik
bibir maupun alisku. Pikirannya mengembara melintasi bumi, menyebrangi lautan,
tearah ke mana pun kecuali ke tempat aku berdiri menantikan dia.
Ketika juru ramal telah menetapkan hari baik untuk
pernikahanku, ketika kotak-kotak merah berlapis pernis telah diisi penuh,
ketika selimut-selimut satin bersulam bunga-bunga merah ditumpuk di atas meja,
dan kue pengantin menjulang bak pagoda, ibuku memanggilku ke kamarnya. Aku
membasuh tangan, merapikan rambut, dan masuk ke kediamannya. Ia duduk di kursi
hitamnya yang terukir sambil menyeruput tehnya. Pipa bambunya yang panjang dan
bersaput perak disandarkan di dinding di sampingnya. Aku berdiri di hadapanya
sambil menunduk, tidak berani menatap matanya. Bagaimanapun, aku merasakan
pandangannya yang tajam menyapu wajah, tubuh dan kakiku. Kehangatan tatapa
tajam itu menembus keheningan sampai jauh le lubuk hatiku. Akhirnya ia
menyuruhku duduk. Ia memegang-megang sepiring kuaci di mej, dan wajahnya yang
tampak tenang itu menyiratkan kesedihan yang sulit ditebak. Ibuku memang
bijaksana.
“Kwei-lan,
putriku.” Ujarnya, “tak lama lagi kau akan menikah dengan laki-laki yang telah
dijodohkan denganmu sebelum kau lahir. Ayahmu dan ayahnya bersahabat karib.
Mereka bersumpah untuk mempersatukan diri melalui anak-anak mereka. Ketika itu
tunanganmu berusia enam tahun. Kau lahir dalam tahun itu. Demikianlah takdirmu
telah ditentukan. Kau dibesarkan untuk tujuan ini.
“Sepanjang
umurmu yang telah mencapai tujuh belas tahun ini, aku terus memikirkan saat
pernikahanmu ini. Dan segala hal yang telah aku ajarkan kepadamu, aku telah mempertimbangkan dua orang, yakni
ibu mertuamu dan suamimu. Demi kepentingan mertuamu aku telah mengajarimu cara
menyiapkan dan menghidangkan teh kepada orang tua, cara berdiri di depannya,
dan cara menyimak dengan diam sementara orang tua berbicara, entah untuk memuji
atau mempersalahkanmu. Dalam segala hal aku telah mengajarimu untuk patuh dan
tunduk seperti sekuntum bunga tunduk kepada matahari maupun hujan.
“Demi
suamimu, aku telah mengajarimu cara berdandan, bagaimana kau harus bicara
kepadanya dengan mata dan eksperi wajah tanpa menggunakan kata-kata, cara
untuk—tapi kau akan mengerti sendiri hal-hal ini setelah tiba saatnya kau
berduaan saja dengannya.
“Oleh
sebab itu kau sudah benar-benar mengetahui tentang semua tugas seorang wanita
terhormat. Kau sudah mengerti cara membuat manisan dan kudapan lain, supaya kau
bisa menggoda selera makan suami dan membuatnya menyadari nilai dirimu. Jangan
berhenti memukaunya dengan ketrampilanmu menghidangkan berbagai makanan.
“Sopan
santun dan tata cara kehidupan bangsawan—bagaimana kau harus masuk dan
meninggalkan ruangan di hadapan orang-orang dengan kedudukan lebih tinggi daripadamu,
cara berbicara dengan bawahanmu, cara naik tandu, cara menyapa ibu mertuamu di
hadapan orang lain—semua ini sudah kau ketahui. Perilaku seorang nyonya rumah,
kehalusan senyum, seni menata rambut dengan hiasan, dan bunga, cara memulas
bibir dan kuku, cara menggunakan minyak wangi, ketrampilan memilih sepatu untuk
kedua kakimu yang mungil—ah, betapa banyak kesulitan dan air mata yang timbul
karena urusan kaki-kakimu itu! Tapi dalam generasimu aku belum pernah melihat
kaki sekecil milikmu. Ketika aku seusiamu, kaki sendiri nyaris tidak lebih
kecil daripada kakimu. Aku cuma berharap keluarga Li telah mengindahkan saranku
dan membalut kaki-kaki putri mereka, tunangan kakakmu, putraku, seketat kakimu.
Tetapi aku tidak terlampau berharap mengenai hal ini, sebab kudengar putri
mereka ini telah mempelajari Empat Buku
ajaran Konfusius, padahal pengetahuan tidak pernah sejalan dengan kecantikan
wanita. Aku harus mengirim pesan lagi kepada comblang mengenai masalah ini.
“Mengenai
kau, anakku, jika menantu perempuanku mampu menyamai dirimu, aku tidak akan
pernah mengeluh berkepanjangan. Kau telah diajarkan memainkan kecapi kuno
dengan dawai-dawai yang pernah dipetik oleh beberapa generasi perempuan kita
demi menyenangkan hati tuan mereka. Jari-jarimu yang sangat terampil, dan kuku
jarimu yang panjang-panjang. Kau bahkan telah diajari bait-bait paling terkenal
gubahan para penyair kuno, dan kau mampu menyanyikannya dengan indah bersama
dengan dentingan kecapimu. Aku tidak melihat bagaimana orang seperti mertuamu
sekalipun bisa mendapati kekurangan dalam caraku mendidikmu. Kecuali kalau kau
tidak mampu melahirkan anak laki-laki! Tetapi aku akan pergi ke kuil dan
memberikan persembahan kepada dewi, seandainya dalam setahun kau belum juga
hamil.”
Wajahku
langsung merah padam. Seingatku, sejak dulu aku sudah tahu perihal kelahiran
dan menjadi ibu. Keinginan kuat untuk memperoleh anak laki-laki dalam
lingkungan rumah tangga seperti kami, dengan ayah yang memiliki tiga selir yang
hanya bertugas mengandung dan melahirkan anak-anak, hal tadi sudah bukan
rahasia lagi. Bagaimanapun, saat hal ini akan kualami sendiri—tapi ibuku bahkan
tidak melihat pipiku yang merah padam itu. Ia duduk termenung dan kembali
memegang-megang biji-biji kuacinya.
“Hanya
saja, masih ada satu masalah.” Ia akhirnya berkata, “suamimu pernah ke luar
negeri. Ia bahkan telah mempelajari ilmu pengobatan asing. Entahlah—tapi cukup
sekian! Waktulah yang akan menentuka. Kau boleh pergi. “
...........................................
( Nah,.. apakah yang akan terjadi ketika Kwei-lan bertemu dengan suaminya
itu, dan bagaimana mereka melewatkan malam pertama mereka, Mampukah Kwei-lan
mendapatkan hati suaminya yang telah berpikiran modern dengan cara-cara
leluhurnya, Kwei-lan akan menceritakan lebih intim lagi... Mari lady’s kita
beli buku ini di toko terdekat kalian—terima kasih telah membaca blog ini )

No comments:
Post a Comment