Search This Blog

Friday, October 30, 2015

Novel East Wind West Wind



Hai ladies.......
Ini adalah review buku pertama yang akan saya muat dalam blog baru ini. Salah satu saya hobi saya adalah membaca, biasanya saya dan teman saya akan berburu ke Gramedia setiap akhir bulan ( cie...jadi ingat masa-masa muda dulu, sekarang masih muda kok hehehe ). 
Tapi berhubung banyaknya aktifitas dan minat baru yang sedang dikembangkan ( plus kamar kecil mungilku udah gak muat dengan buku) jadi saya udah jarang ke toko buku, kecuali kalau memang ada buku yang bagus banget dan pas dengan selera ceritaku baru bela-belain ke ke toko buku lagi...

Okelah mulai aja yah saya masukan judul buku, pengarang, sinopsis dan juga 5 halaman pertama dari buku ini. Jadi kalau kalian udah baca trus merasa tertarik kalian bisa beli. Sebenarnya saya ingin bikinkan versi PDF, tapi itu melanggar undang-undang dan kasian juga sama yang menulis bukunya, walaupun saya tahu beli buku itu mahal (saya pun juga harus nabung buat beli buku itu, sampe gak jajan di sekolah) tapi jika kita benar – benar mencintai buku kita pasti bisa kok nabung buat beli buku... Sekian pembukaannya..... 


Judul : East Wind West Wind

Author : PEARL S. BUCK


TENTANG PENULIS
          Pearl Sydenstricker Buck lahir di West Virginia dan dibawa ke Cina sebelum peralihan abad ketika ia masih bayi. Orangtuanya adalah seorang misionari Protestan, dan beliau tinggal bersama keluarganya di kota pedalaman dan bukan di kamp misionari yang lazim. Buck tumbuh besar menggunakan bahasa Cina maupun Inggris, dan sebagian pendidikannya diterima dari ibunya. Beliau memperoleh gelar M.A dari Cornell, dan mengajarkan literatur Inggris di beberapa universitas Cina sebelum beliau terpaksa meninggalkan negeri itu pada tahun 1932 karena pergolakan revolusi.
          Buck menulis lima puluh buku dan sampai kini beliau merupakan penulis Amerika dengan karya yang paling banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Buck telah dianugerahi Pulitzer Prize, William Dean Howells Award dan Nobel Prize for Literature. East Wind: West Wind adalah novel pertamanya yang ditulis dan diterbitkan ketika beliau masih tinggal dan mengajar di Universitas of Nanking pada akhir tahun 1920-an. Beliau meninggal pada tahun 1973.


SINOPSIS BUKU
  Kisah cinta yang menyatukan dua manusia dan latar belakang budaya yang berbeda. “

Buku ini mengisahkan curahan hati Kwei Lan, wanita yang dididik menurut adat-istiadat Cina kuno. Ia merasa begitu sulit untuk menyesuaikan diri dengan suaminya yang modern dan berpendidikan Barat. Hal ini menimbulkan masalah di dalam keluarga besar kedua belah pihak. Dan masalah ini semakin rumit ketika kakak lelaki Kwei Lan pulang dengan membawa istri berkebangsaan Amerika. Pertentangan antara Timur dan Barat, antara yang tradisional dan yang modern, kian meruncing.

BAGIAN PERTAMA
INILAH yang bisa kukatakan kepadamu, Saudariku. Aku bahkan tak mungkin menceritakannya kepada salah satu dari orang-orang sebangsaku sendiri, sebab ia takkan mampu memahami negeri jauh tempat suamiku pernah tinggal selama dua belas tahun. Aku juga tidak bisa berbicara bebas kepada salah satu dari perempuan-perempuan asing yang tidak mengenal bangsaku dan cara hidup yang kami jalani sejak zaman kekaisaran kuno. Tetapi kau? Seumur hidup kau telah tinggal di antara kami. Walaupun kau berasal dari negeri jauh tempat suamiku mempelajari buku-buku baratny, kau pasti akkan mengerti. Aku bicara sejujurnya. Aku menyebutmu Saudariku. Aku akan menceritakan segalanya kepadamu.
          Kau tahu bahwa selama lma ratus tahun leluhurku yang terhormat hidup di kota kuno Kerajaan Tengah atau Cina ini. Tak satu pun dari antara mereka yang berpikiran modern ataupun berkeinginan mengubah dirinya. Mereka semua hidup tenang dan bermartabat, yakin akan kebenaran mereka. Demikianlah orangtuaku mendidik aku menurut tradisi yang dihormati. Tak pernah terpikirkan olehku untuk menginginkan perubahan. Tanpa memikirnya, aku menyangka bahwa pendapat orang lain yang sudah mapan pun sama seperti diriku. Kalaupun aku mendengar sekilas seperti misalnya dari balik tembok pekarangan, tentang perempuan-perempuang yang tidak sama denganku, yang datang pergi dengan bebas seperti kaum lelaki, aku tidak terlalu peduli. Aku tetap menjalankan cara-cara leluhurku yang sudah diakui selama ini, seperti yang diajarkan kepadaku. Tidak ada satu pun dari dunia luar yang pernah menyentuhku. Aku tidak mendambakan apapun. Namun, sekarang tibalah hari ketika aku tidak sabar lagi mengamati makhluk-makhluk aneh ini--wanita-wanita modern ini—sambil berusaha tahu bagaimana aku bisa menjadi seperti mereka. Bukan demi kepentinganku sendiri, Saudariku, tetapi demi kepentingan suamiku. 
          Ia tidak menganggapku cantik! Ini terjadi karena ia telah melintasi empat lautan menuju negeri-negeri asing yang jauh, dan di sanaia telah belajar mencintai berbagai hal dan cara baru.
          Ibuku wanita yang bijaksana. Ketika pada usia sepuluh tahun aku meninggalkan masa kanak-kanak dan memasuki usia remaja, ia berkata kepadaku
          “Di hadapan lelaki, seorang perempuan harus tetap berdiam diri bagaikan bunga dan mengundurkan diri secepat mungkin tanpa bertanya-tanya.”
          Oleh karena itu aku teringat akan apa yang dikatakannya saat berdiri di hadapan suamiku. Aku tertunduk dan menempatkan kedua tangan di hadapanku. Aku tidak menjawab sepatah kata pun saat ia berbicara kepadaku. Tapi oh, aku takut kalau-kalau ia menganggap sikap diamku ini menjemukan!
          Ketika aku mencoba mengingat-ingat apakah ada sesuatu yang menarik untuk kuceritakan kepadanya, pikiranku ternyata kosong bagaikan sawah yang baru dipanen. Ketika sedang menyulam seorang diri, aku memikirkan berbagai hal indah yang bisa kuceritakan kepadanya. Aku akan berkata betapa aku mencintainya tetapi jangan kau sangka aku akan menyampaikannya dengan kata-kata tak tahu malu yang dikutip dari dunia Barat yang liar itu. Aku menggunakan kata-kata terselubung seperti misalnya,
          “Tuanku, apakah kau perhatikan bagaimana fajar menyingsing pada hari ini? Bumi yang suram ini seakan melompat menyambut kedatangan matahari. Kegelapan yang tiba-tiba disirima cahaya terang bak ledakan musik membahana! Tuanku, akulah bumi suram itu, milikmu seorang yang sedang menanti.”
          Atau seperti ini, ketika ia pulang dari berlayar dengan kapal Lotus Lake dan tiba di malam hari,
          “Bagaimana seandainya lautan yang pucat tidak pernah merasakan bagaimana bulan menarik permukaannya? Bagaimana kalau ombaknya tidak pernah tersentuh lagi oleh cahayanya? Oh, tuanku, jagalah dirimu dan kembalilah kepadaku dengan selamat, supaya jangan aku menjadi sepucat itu tanpa kehadiranmu!”
          Namun begitu ia masuk mengenakan pakaian asing yang aneh itu, aku tak mampu mengucapkan kata-kata itu. Mungkinkah aku telah menikah dengan orang asing? Ia jarang berkata-kata dan pandangan matanya kepadaku hanyalah sekilas, meskipun aku mengenakan pakaian satin merah muda persik dan jepit bertahtahkan mutiara di rambutku.
          Inilah yang membuatku terluka. Belum sebulan aku menikah, dan di matanya aku tidak tampak cantik.

Sudah tiga hari ini aku merenung, Saudariku. Aku harus menggunakan kecerdikanku dan mencari jalan supaya suamiku mau memandangku. Bukankah aku berasal dari berbagai generasi perempuan yang disayangi oleh tuan mereka? Selama seratus tahun belum pernah ada seorang pun dari garis keturunan kami yang tidak cantik, kecuali seorang bernama Kwei-mei dari zaman Dinasti Sung, yang terserang penyakit cacar ketika ia berusia tiga tahun. Namun, orang mencatat bahwa bahkan dia pun memiliki sepasang mata yang hitam legam dan indah bak permata, serta suara yang mampu mengguncang hati lelaki bagaikan angin membelai pokok-pokok bambu di musim semi. Sang suami begitu mencintainya hingga dari antara keenam selir yang dimilikinya sebagai orang berada dan berpangkat, tak seorang pun dari antara mereka yang dicintainya seperti ia mencintai istrinya. Sedangkan leluhuku yang bernama Kwei-fei yang senang membawa-bawa burung putih di pergelangan tangannya seakan mengenggam seluruh kekaisaran di telapak tangannya yang harum itu, karena kaisar, sang Putra Langit, tergila-gila dengan kecantikannya. Oleh karena itu, aku yang paling hina di antara mereka yang terhormat ini, tentunya juga memiliki darah mereka yang mengalir di dalam diriku, dan tulang mereka juga tulangku.
          Aku telah mengamati diriku dalam cermin perunggu. Sungguh bukan demi kepentinganku tetapi demi kepentingan suamiku sajalah, jika kukatakan kepadamu bahwa masih banyak perempuan lain yang kurang cantik dibanding diriku. Aku melihat bahwa batas di antara bagian putih dan hitam mataku tampak jelas. Aku melihat bahwa telinga kecil dan menempel rapi di kepalaku hingga giwang emas berbatu giok yang kukenakan terpasang rapat. Aku juga melihat bahwa betuk mulutku mungil, dan lekuknya sangat serasi dengan bentuk wajahku yang bulat telur. Aku Cuma berharap seandainya saja wajahku tidak sepucat ini dan alisku lebih panjang setengah senti ke arah pelipisku. Aku mengatasi kepucatanku dengan mengoleskan sedikit pemulas merah jambu ke pipiku. Dengan kuas yang dicelukan dengan pewarna hitam aku menyempurnakan bentuk alisku.
          Jadi, aku pun merasa cukup cantik lalu memperiapkan diri baginya. Namun, begitu pandangannya tertuju kepadaku, aku merasa bahwa ia tidak melihat apa pun, baik bibir maupun alisku. Pikirannya mengembara melintasi bumi, menyebrangi lautan, tearah ke mana pun kecuali ke tempat aku berdiri menantikan dia.

Ketika juru ramal telah menetapkan hari baik untuk pernikahanku, ketika kotak-kotak merah berlapis pernis telah diisi penuh, ketika selimut-selimut satin bersulam bunga-bunga merah ditumpuk di atas meja, dan kue pengantin menjulang bak pagoda, ibuku memanggilku ke kamarnya. Aku membasuh tangan, merapikan rambut, dan masuk ke kediamannya. Ia duduk di kursi hitamnya yang terukir sambil menyeruput tehnya. Pipa bambunya yang panjang dan bersaput perak disandarkan di dinding di sampingnya. Aku berdiri di hadapanya sambil menunduk, tidak berani menatap matanya. Bagaimanapun, aku merasakan pandangannya yang tajam menyapu wajah, tubuh dan kakiku. Kehangatan tatapa tajam itu menembus keheningan sampai jauh le lubuk hatiku. Akhirnya ia menyuruhku duduk. Ia memegang-megang sepiring kuaci di mej, dan wajahnya yang tampak tenang itu menyiratkan kesedihan yang sulit ditebak. Ibuku memang bijaksana.
          “Kwei-lan, putriku.” Ujarnya, “tak lama lagi kau akan menikah dengan laki-laki yang telah dijodohkan denganmu sebelum kau lahir. Ayahmu dan ayahnya bersahabat karib. Mereka bersumpah untuk mempersatukan diri melalui anak-anak mereka. Ketika itu tunanganmu berusia enam tahun. Kau lahir dalam tahun itu. Demikianlah takdirmu telah ditentukan. Kau dibesarkan untuk tujuan ini.
          “Sepanjang umurmu yang telah mencapai tujuh belas tahun ini, aku terus memikirkan saat pernikahanmu ini. Dan segala hal yang telah aku ajarkan kepadamu,  aku telah mempertimbangkan dua orang, yakni ibu mertuamu dan suamimu. Demi kepentingan mertuamu aku telah mengajarimu cara menyiapkan dan menghidangkan teh kepada orang tua, cara berdiri di depannya, dan cara menyimak dengan diam sementara orang tua berbicara, entah untuk memuji atau mempersalahkanmu. Dalam segala hal aku telah mengajarimu untuk patuh dan tunduk seperti sekuntum bunga tunduk kepada matahari maupun hujan.
          “Demi suamimu, aku telah mengajarimu cara berdandan, bagaimana kau harus bicara kepadanya dengan mata dan eksperi wajah tanpa menggunakan kata-kata, cara untuk—tapi kau akan mengerti sendiri hal-hal ini setelah tiba saatnya kau berduaan saja dengannya.
          “Oleh sebab itu kau sudah benar-benar mengetahui tentang semua tugas seorang wanita terhormat. Kau sudah mengerti cara membuat manisan dan kudapan lain, supaya kau bisa menggoda selera makan suami dan membuatnya menyadari nilai dirimu. Jangan berhenti memukaunya dengan ketrampilanmu menghidangkan berbagai makanan.
          “Sopan santun dan tata cara kehidupan bangsawan—bagaimana kau harus masuk dan meninggalkan ruangan di hadapan orang-orang dengan kedudukan lebih tinggi daripadamu, cara berbicara dengan bawahanmu, cara naik tandu, cara menyapa ibu mertuamu di hadapan orang lain—semua ini sudah kau ketahui. Perilaku seorang nyonya rumah, kehalusan senyum, seni menata rambut dengan hiasan, dan bunga, cara memulas bibir dan kuku, cara menggunakan minyak wangi, ketrampilan memilih sepatu untuk kedua kakimu yang mungil—ah, betapa banyak kesulitan dan air mata yang timbul karena urusan kaki-kakimu itu! Tapi dalam generasimu aku belum pernah melihat kaki sekecil milikmu. Ketika aku seusiamu, kaki sendiri nyaris tidak lebih kecil daripada kakimu. Aku cuma berharap keluarga Li telah mengindahkan saranku dan membalut kaki-kaki putri mereka, tunangan kakakmu, putraku, seketat kakimu. Tetapi aku tidak terlampau berharap mengenai hal ini, sebab kudengar putri mereka ini telah mempelajari Empat Buku ajaran Konfusius, padahal pengetahuan tidak pernah sejalan dengan kecantikan wanita. Aku harus mengirim pesan lagi kepada comblang mengenai masalah ini.
          “Mengenai kau, anakku, jika menantu perempuanku mampu menyamai dirimu, aku tidak akan pernah mengeluh berkepanjangan. Kau telah diajarkan memainkan kecapi kuno dengan dawai-dawai yang pernah dipetik oleh beberapa generasi perempuan kita demi menyenangkan hati tuan mereka. Jari-jarimu yang sangat terampil, dan kuku jarimu yang panjang-panjang. Kau bahkan telah diajari bait-bait paling terkenal gubahan para penyair kuno, dan kau mampu menyanyikannya dengan indah bersama dengan dentingan kecapimu. Aku tidak melihat bagaimana orang seperti mertuamu sekalipun bisa mendapati kekurangan dalam caraku mendidikmu. Kecuali kalau kau tidak mampu melahirkan anak laki-laki! Tetapi aku akan pergi ke kuil dan memberikan persembahan kepada dewi, seandainya dalam setahun kau belum juga hamil.”
          Wajahku langsung merah padam. Seingatku, sejak dulu aku sudah tahu perihal kelahiran dan menjadi ibu. Keinginan kuat untuk memperoleh anak laki-laki dalam lingkungan rumah tangga seperti kami, dengan ayah yang memiliki tiga selir yang hanya bertugas mengandung dan melahirkan anak-anak, hal tadi sudah bukan rahasia lagi. Bagaimanapun, saat hal ini akan kualami sendiri—tapi ibuku bahkan tidak melihat pipiku yang merah padam itu. Ia duduk termenung dan kembali memegang-megang biji-biji kuacinya.
          “Hanya saja, masih ada satu masalah.” Ia akhirnya berkata, “suamimu pernah ke luar negeri. Ia bahkan telah mempelajari ilmu pengobatan asing. Entahlah—tapi cukup sekian! Waktulah yang akan menentuka. Kau boleh pergi. “ ........................................... 
( Nah,.. apakah yang akan terjadi ketika Kwei-lan bertemu dengan suaminya itu, dan bagaimana mereka melewatkan malam pertama mereka, Mampukah Kwei-lan mendapatkan hati suaminya yang telah berpikiran modern dengan cara-cara leluhurnya, Kwei-lan akan menceritakan lebih intim lagi... Mari lady’s kita beli buku ini di toko terdekat kalian—terima kasih telah membaca blog ini )

No comments:

Post a Comment